Untuk berkata jujur atau tidak merupakan hak setiap orang. Tapi bagaimana dengan tindakan para pelaku criminal saat sedang diadili namun mereka tetap tidak berkata jujur.
Tenang, seiring dengan kemajuan tekhnologi, para ilmuan membuat Polygraphs, atau yang biasa disebut “detektor kebohongan/lie detector” adalah alat yang memantau seseorang melalui reaksi fisiologis.
Sebuah instrumen poligraf pada dasarnya adalah kombinasi alat-alat medis dan dengan kemajuan tekhnologi pula kini lie detector kini berupa computer sebagai alat utama yang digunakan untuk memantau perubahan yang terjadi dalam tubuh. seseorang akan ditanya tentang peristiwa atau kejadian tertentu, para pemeriksa (operator alat lie detector sekaligus biasanya seorang penyidik atau forensic psychophysiologist , tampak melihat bagaimana detak jantung, tekanan darah, laju pernapasan dan aktivitas elektro-dermal (keringat, dalam kasus ini jari-jari) perubahan perbandingan tingkat normal.
Fluktuasi mungkin menunjukkan bahwa orang ini sedang menipu atau berbohong. Lie Detector mendeteksi adanya kebohongan dari sistem gelombang. Bila seseorang bohong maka gelombang akan bergetar cepat. Sebaliknya jika seseorang jujur, maka gelombang tidak bergetar dengan cepat dan tidak terdeteksi oleh Lie Detector.
Untuk membaca dan menterjemahkan penggunaan lie detector ini tentu membutuhkan psikolog sebagai salah satu penggunanya.untuk itu, seorang pikolog juga dapat bekerja pada bidang hukum.
MY BLOG
Jumat, 13 April 2012
Selasa, 27 Maret 2012
Informatif atau tidak ?
Dengan pesatnya perkembangan teknologisaat ini, kita dapat melakukan banyak hal dengan lebih mudah dan cepat.sebut saja untuk mencari alamat yang belum pernah kita datangi, dapat dengan cepat kita ketahui dengan menggunakan internet.
Bicara tentang internet, saat ini banyak sekali terdapat website-website yang berguna bagi banyak orang, namun tidak semua memiliki tingkat informatif yang baik dalam setiap tampilannya. Sebagai contoh sebut saja website-website yang menyediakan layanan bagi para pencari pekerjaan. Untuk mendapatkan informasi ada tidaknya lowongan pekerjaan, seseorang diwajibkan untuk memiliki account.
Untuk melihat seberapa besar tingkat informatif saat pembuatan account, saya mencoba untuk membuat account pada dua website tersebut. Website yang saya coba adalah jobstreet (www.jobstreet.co.id) dan jobindo (www.jobindo.com). Untuk tampilan awal, keduanya tidak berbeda jauh, pengisian formnya pun keduanya memiliki urutan yang sama. Hanya saja pada halaman pembuatan account tersebut form yang harus diisi pada jobstreet menggunakan bahasa Inggris sedangkan pada jobindo menggunakan bahasa Indonesia.
Setelah kita selesai mendaftarkan diri, pada jobstreet.com, kita akan mendapatkan kiriman e-mail yang berisi lowongan kerja sesuai dengan wilayah yang kita pilih, sehingga kita dapat dengan mudah mengetahui adanya lowongan kerja yang tersedia tanpa harus terlebih dahulu ke halaman jobstreet.com. sedangkan pada jobindo.com, kita tidak mendapatkan kiriman e-mail jika ada lowongan kerja baru, jadi kita terlebih dahulu harus masuk ke halaman jobindo.com. untuk itu, kita dapat melihat bahwa jobstreet lebih informative dibandingkan jobindo.
Langganan:
Komentar (Atom)

